Tren Work from Anywhere (WFA) Berkat Transformasi Digital

Jakarta, Gizmologi – Work from Anywhere (WFA) kini tengah menjadi tren baru di kalangan pekerja. Lazimnya adalah Work from Office (WFO) di masa sebelum Covid-19 menyerang, kemudian berubah menjadi Work From Home (WFO) di masa pandemi.

Sekarang secara perlahan kita menuju era endemi. Pemerintah pelan-pelan melakukan pelonggaran mobilitas masyarakat selama masa transisi menuju endemi. Tren baru dalam bekerja pun muncul dengan Work Anywhere (WFA).

Bekerja dari mana saja (WFA) mulai dikembangkan banyak perusahaan. Terlebih sistem ini dapat memudahkan karyawan untuk lebih fleksibel dalam bekerja di mana pun berada. WFA memberikan kesempatan untuk mereka yang ingin bekerja saat sedang traveling atau bosan dengan suasana kantor. Mereka bisa terus produktif bekerja di cafe, hotel, co-working space, airport lounge, villa di pegunungan, dan sebagaimana selama ada koneksi internet.

Baca juga: Kominfo Kebut Transformasi Digital Nasional, Estimasi Rp1.781 Triliun di Tahun 2025

Transformasi Digital sebagai Syarat WFA

Surface Laptop Go 2

WFA menawarkan berbagai manfaat. Bagi karyawan, WFA menawarkan kebebasan bekerja dari mana saja. Lebih hemat waktu dan biaya transportasi, terlebih dengan kondisi kota besar seperti Jakarta yang kemacetannya kian parah.

Harvard Business Review melaporkan hasil penelitan di mana WFA tidak hanya membuat pekerja lebih bahagia, tetapi juga lebih produktif. Produktivitas individu bisa meningkat sebesars 4,4% dari biasanya. Perusahaan juga lebih hemat dalam biaya operasional seperti listrik dan lainnya.

Meski demikian, tidak semua perusahaan bisa menerapkan WFA. Syarat utamanya adalah telah melakukan transformasi digital. Pemerintah pun kian concern dengan transformasi digital. Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Indonesia Digital Conference 2020 lalu mengatakan transformasi digital bisa meningkatkan produktivitas. “Digital ekonomi bisa memberikan akses yang lebih luas pada masyarakat. Produktivitas dari setiap perusahaan akan meningkat, dan ini memberi dampak positif bagi kinerja perusahaan maupun lembaga,” ujarnya.

Baca Juga :  Huawei Kebut Jaringan 5.5G, Hadirkan Pengalaman Internet hingga 10 Gbps

Alasan Alita Berlakukan Work From Anywhere

Alita Praya Mitra

Salah satu perusahaan yang menerapkan Work From Anywhere adalah Alita Praya Mitra. Perusahaan penyedia layanan ICT yang hari ini berusia 27 tahun tersebut menerapkan WFA bagi karyawan sebagai langkah transformasi menuju korporasi fully digital pertama di Indonesia.

Selama masa pandemi, Alita melakukan kegiatan bekerja dari rumah (WFH) mengikuti kebijakan Pemerintah. Bahkan berdasarkan penilaian perusahaan, selama WFH, terbukti pola kerja tersebut berhasil meningkatkan produktivitas kerja hingga 50% dan menurunkan biaya operasional kantor hingga 70%.

Direktur Utama PT Alita Praya Mitra (Alita), Teguh Prasetya mengatakan saat ini pandemi telah bergeser menjadi endemi, namun masyarakat masuk dalam era volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA) yang penuh ketidakpastian.

“Guna menjawab tantangan VUCA, kita perlu VUCA 2.0 yaitu vision, understanding, courage, dan adaptability. Alita WFA merupakan salah satu langkah untuk bekerja dengan lebih inovatif, cerdas, keras, dan mengadopsi teknologi dengan baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, agar Work From Anywhere ini berjalan mulus, menilai diperlukan visi, pemahaman, keberanian, dan kemampuan adaptasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang seimbang. “Komunikasi tetap dijaga melalui berbagai saluran komunikasi, salah satunya intranet Go Beyond untuk memudahkan karyawan dalam bekerja dari mana saja,” ujarnya.

Dijelaskan lebih lanjut, Alita telah menerapkan standar internasional dalam keamanan informasi dengan Sertifikasi Sistem Manajemen Keamanan Informasi atau lebih dikenal dengan Information Security Management Systems (ISMS) ISO 27001.

Sementara Fita Indah Maulani, Head of Corporate and Marketing Communication PT Alita Praya Mitra, menyampaikan sertifikasi ISMS merupakan gambaran bagaimana perusahaan dapat melindungi serta memelihara kerahasiaan, integritas dan ketersediaan informasi.

“Sertifikasi ini diperoleh atas komitmen perusahaan dalam mengelola serta mengendalikan risiko keamanan informasi. Standar operasional prosedur perusahaan harus berjalan sesuai dengan standar keamanan siber, salah satunya mengacu pada ISO 27001,” ujarnya.

Baca Juga :  Daftar Harga Smartphone OPPO Juni 2022, Banyak A Series Terbaru

Dengan mengantongi ISO 27001:2013, saat ini Alita telah menetapkan persyaratan untuk menetapkan, menerapkan, memelihara dan terus meningkatkan sistem manajemen keamanan informasi dalam konteks organisasi. Ini juga mencakup persyaratan untuk penilaian dan penanganan risiko keamanan informasi sesuai dengan kebutuhan organisasi.