Teknologi Baru Smartwatch Garmin Mampu Laporkan SpO2 Lebih Akurat

Jakarta, Gizmologi – Smartwatch Garmin dikenal sebagai salah satu produk jam tangan pintar yang dilengkapi fitur kesehatan mumpuni. Salah satu fitur tersemat ialah oximeter, teknologi untuk mengukur kadar oksigen atau SpO2 dalam darah. Fitur tersebut begitu penting bagi pegiat olahraga sekaligus pengguna smartwatch dalam usaha mengevaluasi aktivitas mereka.

Saat mengaktifkan sensor SpO2, setiap smartwatch Garmin -serta jam pintar lainnya-  dilengkapi dengan dua buah sensor cahaya, satu sensor cahaya biasa berwarna merah dan lainnya infrared. Lampu tersebut kemudian bersinar di atas permukaan kulit, yang sinarnya memantulkan darah dalam tubuh. Hasilnya kemudian dilaporkan ke sistem komputer untuk ditunjukkan hasilnya pada display.

Namun sepertinya Garmin menganggap bahwa proses tersebut belum maksimal. Untuk itulah mereka kemudian mempersiapkan satu buah cahaya sensor tambahan pada smartwatch Garmin untuk masa mendantang. Artinya smartwatch Garmin nantinya akan memiliki tiga buah cahaya sensor SpO2.

Hal tersebut diketahui dari laporan advnture, mengambil dari Badan Paten Amerika Serikat (USPTO), bahwa Garmin telah mengajukan paten atas inovasi teknologi pada produk mereka sejak tahun 2020. Meski begitu, belum dipastikan apakah fitur terbaru ini akan disematkan pada produk Forerunner 225 dan Forerunner 955. Kedua produk yang isunya akan rilis pada bulan Juni mendatang.

Baca juga: Garmin vivosmart 5 Bawa Desain yang Disempurnakan, Harga Rp2 Jutaan

Tiga Sensor Cahaya pada Smartwatch Garmin

smartwatch garmin
Mungkinkah teknologi tiga sensor oximeter ditemukan pada Forerunner 255?

Oxymeter untuk mengukur SpO2 berbasis pantulan cahaya merupakan teknik standar yang dipakai dalam dunia medis. Pada saat pandemi Covid-19 melanda dua tahun terkahir, penggunaan oximeter sendiri begitu populer di Indonesia. Membangun kesadaran masyrakat tentang pentingnya mengetahui kadar oksigen minimal di dalam darah agar badan tetap bugar.

Baca Juga :  Lenovo Legion 5i & Legion 5i Pro, Laptop Gaming Harga Rp20 Jutaan

Namun ada perbedaan dalam pengaplikasian perangkat oxymeter standar medis dan jam pintar. Pada dunia medis, oximeter digunakan pada ujung jari atau telinga pasien. Sementara smartwatch Garmin, dan jam pintar lainnya, digunakan dipermukaan kulit yang lebih tebal. Belum lagi distorsi cahaya yang masuk ketika melakukan aktivitas luar ruang. Sehingga akurasi pengukuran tidaklah sama.

Dasar pemikiran itulah yang akhirnya mendorong Garmin menambahkan teknologi tiga sensor cahaya pada smartwatch Garmin di masa mendatang. Diharapkan dengan satu sensor cahaya tambahan, tingkat akurasi pengukuran SpO2 jadi lebih akurat.

Sensor cahaya yang dimaksud akan memiliki tiga kemampuan berbeda. Yakni sebuah sensor cahaya memiliki jangkauan hingga 630 nanometer, sebuah infrared dengan jangkauan pancar cahaya 940 nanometer, dan satu sensor cahaya tambahan dengan jangkauan sekitar 660 nanometer. Ketiganya akan saling memberi laporan ke sistem, untuk diolah dan disajikan pada display smartwatch.

Apabila Garmin sukses mengadopsi fitur teknologi ini, maka akan jadi yang pertama di dunia dalam mengaplikasikan tiga sensor cahaya sekaligus di dalam sebuah jam pintar.