Satelit HBS dan SATRIA-1 Indonesia Meluncur Pakai Roket SpaceX

Jakarta, Gizmologi – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate optimistis proyek komersial dari satelit Hot Backup Satellite (HBS) dan SATRIA-1 akan berjalan sesuai jadwal. Hal tersebut dikemukan dalam pertemuannya dengan Boeing, Space X dan Hughes Network System (HNS) di Los Angeles, Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari siaran persnya, satelit HBS sebagai bentuk kerja sama antara Kemkominfo dan pihak swasta ini berkapasitas 160 giga bits per second (gbps). Lebih lanjut, sebesar 80 gbps akan dipakai pemerintah, 70 gbps untuk swasta nasional dan 10 gbps untuk negara-negara ASEAN.

Satelit ini didukung 18 stasiun bumi di 14 lokasi (gateway). Gateway utama ada di Cikarang, Jawa Barat. Penggunanya nanti ada sekolah, fasilitas kesehatan, layanan kamtibmas seperti polisi dan daerah 3T.

“Boeing mengonfirmasi satelit diluncurkan awal Mei 2023 dan commercial operation September 2023,” ungkap Menteri Johnny saat bertemu dengan Ryan Reid selaku President Boeing Satellite Systems Internasional.

Dalam kesempatan yang sama, Ryan Reid menjamin Indonesia mendapatkan teknologi terkini untuk satelit HBS ini. Satelit HBS memakai teknologi High Troughput Satellite (HTS) dengan teknologi pemrosesan digital terbaru dengan desain dan komponen berdasar satelit Boeing 702.

“Teknologi ini lebih fleksibel untuk komunikasi kecepatan tinggi ke berbagai pulau di Indonesia,” kata Ryan.

Di tempat terpisah, Menkominfo juga menemui Vice President Mission Management, Jessica Jensen, dan Vice President Commercial Sales Tom Ochinero di markas SpaceX di Hawthorne, California. Dalam pertemuannya ini johnny mengatakan, satelit HBS buatan Boeing akan diterbangkan menggunakan roket SpaceX.

Baca Juga: Proyek Satelit SATRIA-1 Sudah 68,3% Rampung, Siap Mengorbit 2023

“SpaceX mengonfirmasi kesiapan peluncur Falcon 9 untuk mengorbitkan HBS sesuai jadwal, yakni awal Mei 2023 di Cape Canaveral, Florida,” kata Menkominfo.

Baca Juga :  Huawei Siap Rilis TWS Murah dalam Waktu Dekat

Menurut Johnny, Indonesia memilih SpaceX dan roket Falcon 6 karena sudah biasa digunakan. Roket Falcon 6 juga bisa dipakai berulang sebagai shuttle. Terlebih roket SpaceX juga akan digunakan untuk menerbangkan Satelit Satria-1 pada Juni atau Juli 2023.

Adapun jadwal kegiatan komersial adalah kuartal ke empat 2023. Satelit HBS pada akhir 2023 ditargetkan melayani 20 ribu titik fasilitas publik dari total 150 ribu titik di Indonesia.

“HNS menyiapkan dan akan menginstalasi 20 ribu terminal bagi layanan publik untuk sekolah, puskesmas, kantor desa, pos perbatasan TNI dan pos polisi mulai 2022. Pengerjaannya secara simultan agar sesuai dengan peluncuran dan operasi satelit,” paparnya.

Satelit SATRIA-1 Diangkut Kapal Laut

Di sisi lain, pandemi COVID-19 dan situasi geopolitik mempengaruhi proses produksi dan peluncuran HBS dengan roket Falcon 9. Untuk mengangkut satelit dan roket ke dari California ke Florida, misalnya, tidak bisa menggunakan pesawat Antonov akibat perang Rusia-Ukraina.

Satelit ini nantinya akan dikirim ke AS menggunakan kapal laut. “Satelit akan dibawa melalui jalan darat yang membutuhkan waktu 9 sampai 10 hari. Roket peluncur tidak masalah karena tersedia di Florida. HNS juga sudah memitigasi dengan mengamankan 20 ribu ground segment sebagai terminal layanan sinyal wifi-satelit.”

“Untuk Satria-1 akan menggunakan jalur transportasi laut dari Prancis pakai kapal laut dibawa ke Florida menyeberang Lautan Atlantik. Itu butuh waktu 2 minggu,” paparnya.

Proyek pembuatan HBS berlangsung sejak 19 Oktober 2021 ketika BAKTI melaksanakan pengadaan dengan dasar Peraturan Direktur Utama BAKTI nomor 4/2021 tentang Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa Penyediaan Hot Backup Satellite untuk Transformasi Digital. Program HBS dikerjakan sesuai dengan target dan sudah memasuki tahapan konstruksi di 2022 dengan harapan bisa meluncur ke orbit pada kuartal pertama 2023.

Baca Juga :  2022 PMPL SEA CHAMPIONSHIP SPRING FINALS Dimulai, realme Adakan Kompetisi Berhadiah Rp150 Juta

Diharapkan pada kuartal keempat 2023 satelit sudah dapat beroperasi melayani masyarakat. Adapun manfaat satelit diharapkan bisa membantu Indonesia memberikan kesetaraan akses dan konektivitas kepada masyarakat di Tanah Air.

“Dengan satelit, titik-titik terpencil dapat dijangkau dengan relatif mudah dan merata. Teknologi satelit melengkapi berbagai penyediaan infrastruktur akses sinyal dan internet yang telah dibangun Kementerian Kominfo seperti jaringan tulang punggung internet berkecepatan tinggi dan ribuan BTS 4G di daerah Terdepan, Terluar, dan tertinggal (3T),” kata Dirjen Sumber Daya,Perangkat Pos, dan Informatika (SDPPI) Kominfo Ismail.


Cek berita teknologi, review gadget dan video Gizmologi di Google News