Tantangan Kedaulatan Data Pribadi: Dari Rendahnya Literasi Hingga Social Engineering, Kerugian Mencapai Rp114 triliun

Jakarta, Gizmologi – Menurut Devie Rahmawati, Tenaga Ahli Menteri Kominfo, pemahaman tentang kedaulatan data pribadi masyarakat masih tegolong minim, Padahal tahun 2021 pinjol ilegal masif sekali beroperasi mendatangkan korban.

“Berdasarkan berapa penelitian, sayangnya kerugian nyata terkespos nyata lewat para korban di Indonesia bukan melaporkan kepada aparat. Padahal dengan laporan mereka bisa membantu atau memiliki modal menelusuri para penjahat digital. Korban kebanyakan memilih diam, karena malu dan memilih pasrah, bahkan ada yang menganggap ini takdir,” ujar Devie saat berbincang di ajang Gizmotalk: Tantangan Membangun Kedaulatan Digital di Indonesia (18/8).

Ia menambahkan, di sini tantangannya secara sosiologis, masyarakat perlu dibantu agar tidak memberikan kesempatan kepada siapapun untuk memberikan data pribadi yang ujungnya bisa memiskinkan masyarakat. “Tahun 2020, tercatat kerugian ada sekitar Rp114 triliun. Ada dana pensiun, tabungan haji, dan sebagainya yang hilang begitu saja dicuri akibat kesadaran literasi digital tidak dimiliki,” ungkapnya.

Pencurian data dilakukan dari hutan

GIzmotalk HUT RI Kedaulatan Digital
 Gizmotalk: Tantangan Membangun Kedaulatan Digital Indonesia.

Devie mengungkapkan sebuah temuan menarik. Ada satu daerah yang menurut pengakuan aparat, 5 tahun lalu ada kasus pencurian data dengan nilai kerugian Rp28 miliar. Kejadian ini dilakukan oleh satu komunitas di suatu tempat yang berada di hutan-hutan dan kemudian mencari sinyal untuk menjalankan modusnya.

“Modus mereka menawarkan jadi nasabah prioritas. Satu wilayah profesinya sama, ketika polisi menindak taruhannya nyawa, karena mereka memiliki senjata api dan siap berperang. Arealnya juga susah dicapai, harus dengan mobil off-road,” ungkapnya.

Ini disebutnya sebagai metode social engeneering memancing psikologi calon korbannya untuk
membagikan data yang secara tidak sadar melalui OTP dan menggasak rekeneningnya.

Bagaimana cara memayungi masalah di atas, karena bocornya sudah ke bawah. Teman-teman kepolisian menyatakan bahwa kejahatan di dunia maya dan nyata saling berlomba. Sayangnya tidak semua korban melapor. Ini tantangan, sangat dibutuhkan kerja sama segala pihak.

Baca Juga :  Telkomsel Alami Lonjakan Trafik Layanan Saat Momen Idulfitri 1443H

“Dengan melapor, bisa jadi pahlawan karena membantu orang lain tidak menjadi korban,” imbuhnya.

Gen Z melek digital, Tapi juga paling abai

Devie Rahmawati TAM Kominfo
Devie Rahmawati (Tenaga Ahli Menteri Kemkominfo)

Ia juga menambahkan, program edukasi tidak akan terhenti di satu generasi. Banyak yang berpikir jika Gen Z adalah kaum yang melek dunia digital. Anak gen Z justru generasi paling baru yang juga paling abai terhadap sekuriti. Ini paling berbahaya karena merasa paling tahu, justru paling rentan.

“Siapapun pemimpin ke depan, hal ini akan selalu menjadi tantangan karena hal ini menyangkut kemiskinan. Jika ada kemiskinan, akan muncul ketidakstabilan dan mereka bisa disisipkan informasi tertentu oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Biasanya orang yang lapar adalah orang yang mudah marah,” ujarnya.

Berbagai kondisi ini diakuinya menjadi salah satu PR (pekerjaan rumah -red) dengan terus keliling ke masyarakat untuk mengajarkan cakap digital. Apalagi masyarakat kita secara sosiologis sangat menjaga harmoni, jika sudah merasa dekat dengan iklasnya meminjamkan hal-hal lain yang bisa menjadi bahaya jika konteksnya personal.

Kemkominfo memiliki Program Indonesia Cakap Digital yang dilakukan secara berjenjang kepada masyarakat umum. Targetnya setiap tahun ada 10 juta orang. Jadi minimal di 2024 sudah 50 juta orang yang sudah teredukasi. Program ini sifatnya cepat, perlu bergerak bersama.


Cek berita teknologi, review gadget dan video Gizmologi di Google News