Mobile Backhaul dengan Satelit Jadi Solusi Perluas Jaringan di Wilayah 3T

Jakarta, Gizmologi – Dibanding negara lain di sekitar, pengembangan jaringan di Indonesia adalah yang paling menantang. Karena kondisi geografis negara kepulauan yang memiliki sekitar 17 ribu pulau dengan kontur tanah yang dinamis. Maka pemanfaatan mobile backhaul services berkala besar menjadi salah satu solusi yang diterapkan.

Besarnya kebutuhan akan mobile backhaul services ini didorong oleh tujuan Pemerintah untuk menghubungkan wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di Indonesia. Tugas ini dilimpahkan kepada Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI).

Baca juga: BAKTI Kominfo akan Bangun BTS di 7.904 Desa Wilayah 3T

Untuk menggelar mobile backhaul services tersebut, BAKTI menggandeng Kacific Broadband Satellites Group (Kacific) yang bermitra dengan perusahaan lokal Teleglobal. Mereka melaporkan telah menyelesaikan penyediaan mobile backhaul service berskala besar untuk operator telekomunikasi yang memiliki jangkauan luas di Indonesia.

Kerjasama ini diklaim berhasil menghubungkan ratusan lokasi di seluruh wilayah Indonesia, untuk layanan 4G pada satelit Ka-Band high-throughput milik Kacific selama setahun terakhir.

Apa itu mobile backhaul services?

Satelit Kacific1
Satelit Kacific1

Mobile backhaul mengacu pada jaringan transportasi yang menghubungkan jaringan inti dan RAN (Radio Access Network) dari jaringan seluler. Vendor seperti Kacific dan Teleglobal menyediakan backhaul untuk jaringan seluler dengan interkoneksi stasiun terestrial melalui relay satelit.

Nah, data yang dikirim dari BTS (Based Transceiver Satellite) ke BSC (Based Station Controller) dan BSC ke MSC (Mobile Switching Center) melalui jaringan lain atau link jaringan internal. Sistem ini diterapkan untuk menjangkau daerah-daerah di pelosok Indonesia yang tidak memiliki jaringan telekomunikasi terrestrial.

Satelit Kacific1 sendiri diluncurkan ke luar angkasa pada Desember 2019 menggunakan roekt SpaceX Falcon 9. Dimiliki oleh Kacific yang merupakan perusahaan asal Singapura, satelit komunikasi buatan Boeing ini mengalirkan pita lebar berkecepatan tinggi ke 25 negara di kawasan Asia Pasifik.

Baca Juga :  Minat Pemodal Danai Startup Kripto dan Proyek Blockchain Diklaim Masih Tinggi

Bisa hubungkan BTS menggunakan VSAT kecil, kecepatan mencapai 85Mbps

Teleglobal dan Kacific Selesaikan Penyediaan Mobile Backhaul Service Skala Besar BTS
Teleglobal dan Kacific Selesaikan Penyediaan Mobile Backhaul Service Skala Besar

Kacific disebut menawarkan fleksibilitas kepada Teleglobal untuk memindahkan kapasitas di berbagai cakupan area (beam) dan menyebarkan kapasitas berdasarkan kebutuhan dengan jaringan yang berbeda. Kecepatan yang dihasilkan mencapai 85Mbps dapat dicapai menggunakan terminal VSAT kecil yang terintegrasi ke dalam jaringan seluler telekomunikasi.

Candra Bramono Indianto, Direktur Teleglobal., mengatakan industri telekomunikasi di Indonesia sedang memperluas jaringan dan meningkatkan kapasitas untuk memenuhi permintaan data Pemerintah dan secara umum yang berkembang pesat dari masyarakat Indonesia.

Dengan teknologi satelit mutakhir Kacific, Teleglobal dapat menghubungkan BTS dengan sangat cepat untuk memasok perusahaan telekomunikasi. Pasokan ini diiringi dengan volume bandwidth yang besar dan ketersediaan yang lebih tinggi dalam hal kualitas layanan dengan biaya yang kompetitif.

“Kami terkesan dengan tim Kacific, yang telah memberikan integrasi jaringan yang sangat kompleks dan memastikan proses berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Sementara Brandon Seir, Chief Commercial Officer Kacific, mengatakan, “Bekerja dengan Teleglobal memungkinkan kami memanfaatkan keahlian mereka di Indonesia untuk menghubungkan lebih banyak orang di daerah pedesaan melalui mobile backhaul service kami.”

Teleglobal, dijelaskan Brandon, menggunakan layanan satelit Ka-Band throughput tinggi Kacific untuk memenuhi permintaan dari pemerintah sebagai penyetaraan akses konektivitas yang andal antar warga.

Pemerataan jaringan yang terkendala

Menara BTS di kawasan 3T

Untuk memastikan pemerataan akses wilayah 3T di Indonesia, Kominfo melalui BAKTI telah menyalurkan dana kepada operator seluler untuk menggelar BTS 4G di pedesaan. Pada dasarnya, ini juga anggaran yang berasal dari setoran perusahaan telekomunikasi kepada Bakti.

Kominfo dan BAKTI melakukan tender kepada perusahaan telekomunikasi besar untuk membangun 7.904 BTS pada akhir tahun 2022. Meski kemudian targetnya direvisi menjadi 2023 dengan alasan dananya seret.

Baca Juga :  Tips Memilih Bengkel Ban Mobil Terdekat Lewat Gawai Saat Mudik

Menurut Direktur Utama BAKTI Kominfo Anang Latif, seharusnya proyek BTS 4G tahap pertama selesai pada Maret 2022. Di tahap pertama, BAKTI Kominfo membangun 4.200 BTS 4G Tapi, karena terganjal pembiayaan, baru akan rampung akhir tahun ini. Total anggaran pembangunan BTS 4G mencapai Rp 11 triliun.

Dilansir dari Kompas (4/4), berbagai dugaan penyebab menyeruak, di antaranya adalah penyimpanan dana proyek dan kesalahan prosedur dalam penentuan pemenang proyek. Meski demikian, BAKTI Kominfo menegaskan bahwa keterlambatan itu karena pandemi Covid-19 yang berdampak ke rantai pasok material dan proses pengerjaan. Ada juga faktor masalah keamanan, terutama di wilayah Papua

Untuk itu, Kementerian Kominfo dan BAKTI Kominfo akan terus berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan, agar pembiayaan untuk membangun infrastruktur telekomunikasi di daerah 3T tersebut bisa tetap tersedia.