Riset Accenture: 55% Pengusaha Indonesia Sudah Melek Metaverse

Jakarta, Gizmologi – Survei Accenture dalam Laporan Techvision 2022 mengungkapkan sebanyak 55% pemimpin eksekutif perusahaan di Indonesia sudah melek metaverse dan diyakini dapat memberikan dampak positif bagi organisasi mereka. Hal ini menjadi satu dari 4 trend yang bisa menjadi trigger perkembangan teknologi, secara global.

Dalam laporannya, 97 % eksekutif perusahaan percaya kemajuan teknologi dapat lebih diandalkan dibanding faktor lain dalam menginformasikan strategi jangka panjang. Bahkan, 25% di antaranya mempercayai bahwa teknologi tersebut dapat memberikan terobosan atau dampak transformasional.

“Gelombang baru transformasi digital yang sedang berlangsung akan mengubah cara kita semua hidup dan bekerja”, kata Managing Director Accenture Indonesia Prie Prihadiyanto dalam Acara Peluncuran Laporan Tahunan Terbaru Accenture Technology Vision 2022: Metaverse Continuum, Rabu (7/6/2022).

Survei tersebut dilakukan terhadap lebih dari 60 pemimpin bisnis dan teknologi dari 8 delapan industri di Tanah Air. Laporan yang sama juga menemukan 93% eksekutif perusahaan Indonesia yang disurvei sepakat bahwa platform digital masa depan perlu menawarkan pengalaman terpadu, yang memungkinkan penggunaan data pelanggan di berbagai platform dan ruang digital.

Prie menuturkan strategi perusahaan dibangun untuk internet saat ini, sebuah dunia digital di mana platform sering kekurangan interoperabilitas dan portablitas data. Selain itu, ia menyebutkan sebanyak 83% eksekutif juga menyadari bahwa hingga beberapa tahun ke depan, Web3 akan secara fundamental mengubah cara pelaku bisnis berinteraksi dengan penggunanya secara daring.

Ketertarikan Pengusaha yang Sudah Melek Metaverse

melek metaverse

Seperti yang diungkap oleh Johannes Kolibonso, Managing Of Director of CIE bahwa Metaverse memang karna hype meskipun masih banyak yang bingung, Tapi teknologi AR ( Augment Reality) akan menjadi alat bagi Industri.

“Dibuatnya metaverse karna hype conssigment meskipun masih banyak yang bingung, metaverse berawal dari formnya yaitu NFT dan crypto yang sangat hype saat ini, dan teknologi AR akan mendisrupt industri dalam tiga tahun kedepan” ujar Johan

Baca Juga :  Riset: Perdagangan Digital Jadi Pendorong Pertumbuhan Ritel Q2 2022

Maka dari itu, Accenture mengidentifikasi terdapat empat tren utama yang perlu dibahas oleh perusahaan yakni WebMe: Putting the Me in Metaverse, Programmable World: Our Planet, Personalized, The Unreal: Making Synthetic, Authentic, dan Computing the Impossible: New Machines, New Possibilities.

Baca Juga: IOH Kembali Gelar IDCamp 2022, Buka Kelas Programer untuk Metaverse

“Visi kami tentang metaverse sebagai kontinum menekankan pentingnya bagi bisnis untuk bertindak sekarang atau mereka akan beroperasi di dunia yang dirancang oleh dan untuk orang lain,” jelasnya.

Metaverse dan Web3, lanjut dia, dipastikan akan membentuk kembali internet, sehingga alih-alih menjadi kumpulan situs dan aplikasi yang berbeda, metaverse akan mengarah ke lingkungan 3D di mana berpindah dari satu tempat ke yang lain akan semudah berjalan dari satu ruangan ke ruangan lainnya.